Minggu, 02 Juli 2017

memahami prilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi



Memahami prilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip prinsip psikologi


Assalamualaikum….!!!
            Hai sahabat-sahabat semua tidak terasa ya kita sekarang sudah menjadi mahasiswa dan mahasiswi di universitas favorit kita. Nah, sekarang kami akan memberika informasi dan pengetahuan kepada sahabat-sahabat semua tentang psikologi agama dalam  memahami prilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip prinsip psikologi. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa psikologi itu adalah cabang ilmu yang mempelajari tentang jiwa, dan dapat kita simpulkan bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh terhadap keyakinan agama yang dianutnya serta kaitanya dalam perkembangan manusia itu sendiri dan bertujuan untuk mengembangkan prilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi yang dipungut dari kajian terhadap prilaku keagamaan dan bukan keagamaan (Robert H.Thouless, 1992: 13).
Menurut pandangan Psikologi agama dalam islam Manusia dipandang sebagai makhluk psikis dalam al-Qur,an  manusia itu dipandang sebagai makhluk ciptaan tuhan yang memiliki sosok diri yang terbentuk dari unsur fisik dan nonfisik. Jadi, psikologi agama dalam islam itu merupakan potensi psikis manusia yang mencangkup dorongan moral untuk melakukan kebaikan dan menghindarkan keburukan, karena dengan adanya kemampuan manusia untuk berfikir dan memahami persoalannya (M.Quraish Shihab, 1994:14). Dengan potensi inilah manusia mampu untuk mengembangkan dirinya dan meningkatkan harkat kemanusiaanya selaku makhluk ciptaan tuhan.
Dalam memahami prilaku keagamaan, psikologi agama memiliki prinsip-prinsip untuk Mempelajari, memahami dan menganalisis pengaruh kepercayaan yang berhubungan dengan agama. Dengan demikian, psikologi agama mempelajari tentang kesadaran agama terhadap seseorang yang pengaruhnya terlihat dalam kelakuan dan tindak agama orang itu dalam hidupnya. Oleh karena itu, untuk memahami pengaruh dalam psikologi agama itu dilihat dari Kriteria orang yang matang dalam beragama.
Orang yang matang dalam beragama  adalah kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai keagamaan yang terletak pada nilai nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai agama dalam bersikap dan bertingkah laku dari kematangan beragama. Jadi, kematangan agama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari.
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa untuk memahami prilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi itu perlu adanya kematangan dalam beragama. Jadi, jika jiwa kita sudah matang (konsisten) dalam agama in sha Allah prinsip-prinsip psikologi agama itu dapat terpenuhi.
Thanks ya buat sahabat sahabat semua sudah mau membaca artikel kami, dalam pembuatan artikel ini kami mengalami hambatan dikarenakan  kurangnya sumber-sumber yang bisa dijadikan rujukan. Semoga isi artikel ini bisa memberikan manfaat buat kita semua dan kami sangat membutuhkan saran dari sahabat-sahabat semua untuk membantu kami dalam memperbaiki artikel ini.
Wasalam.


Daftar Pustaka
Darajat Zakiah, Ilmu  Jiwa Agama; Jakatra, Bulan Bintang: 1970
Jalaluddin, psikologi agama ; Jakarta, PT Raja Grafindo Persada : 2004
Gunarsa, Y.Singgih D, psikologi untuk membimbing; Jakarta, Gunung Mulia,1989
Bastaman, Hannah Djumhana, Integrasi psikologi dengan islam menuju psikologi islami; Yogyakarta, Pustaka Pelajar dan Insan Kamil,1995
Witherington, H.C. Psikologi  pendidikan (educational psylogy), terj. M.Buchori; Bandung, Jemmars,1982